Parkiran (gedung) Tanpa Kendaraan Bermotor.

June 24th, 2010 by david

Di Mexico City, setiap hari Senin minggu pertama setiap bulannya diselengarakan suatu program yang dalam bahasa Spanyol dikenal dengan ‘Bici Funcionarios’. Bici Funcionarios, secara bebas dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Pejabat Bersepeda. Ya, karena pada hari Senin minggu pertama tersebut, setiap pejabat pemerintah daerah diwajibkan untuk menggunakan sepedanya menuju tempat kerjanya. Di sana lingkungan memang sangat mendukung, mulai dari iklimnya, sarana jalur sepeda, rak tempat parkir, kamar mandi etc. Selain itu dukungan kemauan dan kesungguhan para pembuat keputusan untuk menciptakan kota yang nyaman, aman, sehat dan bersih dari polusi bagi masyarakatnya juga kuat. Mexico City yang pada tahun 1992 pernah menyandang  julukan kota tercemar (Mexico City’s air as the most polluted on the planet),  saat ini sudah jauh lebih baik.

Mexico City, secara selintas mempunyai situasi sosial mirip dengan Jakarta. Masalah ekonomi yang mendorong terjadinya urbanisasi; masalah urbanisasi yang menimbulkan masalah kepadatan penduduk, bahkan rumah-rumah kecil mereka, berjubel dan merambah ke atas perbukitan di pinggiran kota; masalah mobilitas penduduk yang membebani system transportasi; masalah pencemaran akibat industri dan transportasinya. Semuanya mirip dengan yang kita alami di kota kita ini.

Tapi secara selintas dapat juga terlihat perbedaannya, terutama dalam hal kesungguhan untuk memperbaiki situasi lingkungan dan masalah yang dihadapinya, terutama dalam menyelesaikan masalah mobilitas penduduknya. Mereka melengkapi jalan-jalan lingkungan mereka dengan pedestrian; mereka juga membangun jalur sepeda dalam lingkungan pemukiman-pemukiman mereka dan mereka juga membangun jalur sepeda yang menghubungkan satu cluster pemukiman dengan cluster pemukiman lain dan juga dengan pusat kegiatan (sekolahan, perkantoran etc). Bus-bus milik perorangan dengan kondisi yang buruk dan jalur yang tumpang tindih, telah mereka beli dan digantikan dengan BRT lengkap dengan bus pengumpannya yang menjangkau sampai pelosok pemukiman. Ini membuat kehidupan mereka lebih baik. Interaksi sosial bertambah sering, polusi udara jauh berkurang dan kesehatan masyarakat meningkat.

Seharusnya para pembuat keputusan di kota kita ini juga bisa belajar dan mengacu pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah Mexico City. Tidak usah seekstrem pemerintah Mexico City dengan program Bici Funcionarios, yang mewajibkan pejabat pemerintah daerah memakai sepeda untuk bekerja. Jalur khusus sepeda belum tersedia, juga jarak beberapa pemukiman dengan tempat aktifitas kita di sini kadang-kadang cukup jauh (idealnya, antara 5Km sampai 15Km atau kurang dari satu jam bersepeda). Walau sebenarnya masih bisa mengkombinasikan sepeda dengan transportasi umum (kereta api atau BRT).

Pemerintah (selain memperbaiki system transportsi umum) harus bisa dan harus mau memulai mengadakan program yang mendorong pengurangan kendaraan bermotor pribadi dengan memperkenalkan angkutan alternatif (sepeda, BRT, Kereta Api etc) misalnya dengan program PTKB (Parkiran Tanpa Kendaraan Bermotor). Saat ini memang sudah ada program HBKB (Hari Bebas Kendaraan Bermotor, CFD) atau HTKB (Hari Tanpa Kendaraan Bermotor, CFD) yang diselenggarakan sebulan dua kali, baik secara terpusat di Jl. Thamrin-Sudirman, maupun wilayah kota lainnya. Tapi sebaiknya mulai diperkenalkan juga program PTKB (Parkiran Tanpa Kendaraan Bermotor) yang dilaksanakan pada saat/hari tertentu dengan menutup pelataran parkir bagi kendaraan bermotor. Pegawai yang biasanya membawa kendaraan bermotor pribadi dan parkir di pelataran parkir tesebut bisa meninggalkan kendaraannya di rumah dan bersepeda atau naik kendaraan umum menuju tempat kerjanya. Atau mereka harus mau memarkirkan kendaraannya di tempat lain, di luar pelataran parkir gedung, dan kemudian mereka bisa melanjutkannya dengan berjalan kaki atau naik sepeda atau dengan naik kendaraan umum. Dengan demikian lingkungan udara di sekitar lapangan parkir tesebut bisa menjadi lebih segar.

Juga, hari PTKB akan mendorong masyarakat untuk hidup lebih sehat dengan lebih banyak bergerak; lebih bisa bersosialisasi dengan berjalan/bersepeda/berkendaraan bersama dan belajar mengurangi pencemaran.

Pada awal pelaksanaannya mungkin akan ditemui sedikit kesulitan, tapi dengan memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya tentang alternatif transportasi yang ada dan sosialisasi yang cukup dan tepat sasaran, program ini akan dapat memberi manfaat yang nyata bagi kenyamanan hidup kita di kota ini.

Semoga pemikiran ini dapat membuka wawasan para pengambil keputusan di kota ini dan masyarakat dapat hidup lebih baik.

Salam(062410dc)

 

Menjaga Penjaga

February 17th, 2010 by david

Mungkin judul tulisan ini terasa aneh ya?. Menjaga Penjaga. Semestinya yang benar kan Penjaga menjaga. Penjaga keamanan, baik itu satpam yang menjaga kantor kita atau hansip yang menjaga keamanan lingkungan kita, atau polisi, atau militer kan memang tugasnya menjaga supaya lingkungan di sekitar kita aman, menjaga supaya masyarakat kita aman, menjaga negara kita aman. Penjaga pameran, mereka mempunyai tugas menjaga barang-barang yang dipamerkan dan kalau ada pertanyaan dari pengunjung pameran, syukur-syukur (tapi diharapkan juga), ia bisa menjawab dan menjelaskannya.

Penjaga memang orang yang melakukan kegiatan atau mempunyai pekerjaan menjaga. Dan seperti contoh di atas, dia bisa menjaga apa saja, sesuai dengan yang ditugaskan/ diperintahkan/ diamanatkan kepadanya. Penjaga adalah menjaga.

Kalau begitu, apakah judulnya salah?. Tidak. Karena saya memang bermaksud menulis  Menjaga Penjaga.

Ada cerita tentang seorang hartawan yang mempunyai harta berlimpah. Ia sangat kuatir bila hartanya, yang diperoleh dengan susah payah, dicuri orang. Untuk menjaga rumahnya dari pencuri, ia memelihara seekor anjing penjaga yang besar, yang galak, yang akan menjaganya dari setiap orang asing yang berniat menerobos rumahnya. Pada mulanya ia dapat tidur dengan tenang. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena anjingnya mati diduga diracun oleh pencuri yang masuk kedalam rumahnya. Ia kemudian menggaji seorang satpam tua untuk menjaga rumahnya menggantikan anjing tersebut. Ia dapat tidur dengan tenang lagi. Tapi hal ini juga tidak berlangsung lama, ketika dilihatnya sang satpam tidur di dalam rumah jaga saat dia bertugas, sang satpam langsung dipecat. Kemudian dicarinya satpam baru yang nampak lebih muda lebih dan erenjik. Tapi ia tetap diliputi kekuatiran, sang satpam baru akan tertidur juga. Maka setiap dua jam sekali, ia membuka tirai jendela kamarnya untuk melihat apakah satpam baru tersebut tertidur atau tidak. Orang kaya tersebut tetap harus bangun untuk menjaga penjaganya.

Jadi untuk apa, ia harus menggaji seorang penjaga, kalau ia tetap harus menjaga penjaganya tersebut?

Dalam bahasa jawa ada istilah: penjaga sing ora bisa dijagake. (penjaga yang tidak bisa dipercayakan tanggung jawab padanya).

Dalam kehidupan sekitar kita, sering juga kita jumpai penjaga-penjaga yang tidak bisa dijagake sehingga kita harus tetap menjagainya terus menerus. Wakil rakyat yang seharusnya bisa menjadi wakil kita untuk mengawal perjuangan di dewan (baik kasus bank Century yang sedang ramai maupun hal-hal lain) harus tetap kita awasi supaya tidak melebar dan menyimpang kemana-mana. Polisi lalulintas yang seharusnya menjaga ketertiban lalulintas, harus kita awasi dan kita semangati supaya tidak mencontohkan hal-hal yang melanggar hukum (naik motor tanpa lampu etc). Lembaga Pengawas Bank, harus tetap kita awasi, apakah mereka akan tetap mengawasi Bank-Bank dengan benar dan kita tidak kecolongan lagi. Auditor harus diaudit supaya hasilnya transparans; tapi oleh siapa? Oleh kita jugakah? Dan masih banyak contoh-contoh lainya.

Lalu kalau semua penjaga harus kita jaga, akan mampukah kita menjaga semuanya? Juga timbul pertanyaan, lalu apa fungsi dari mereka, para penjaga-penjaga tersebut.

Semoga kita mempunyai penjaga yang baik yang dapat dipercaya, yang dapat dijagaake; sehingga kita dapat hidup dengan tenang.

Salam (021710dc)

 

(Yang dapat menghibur kita, kita masih punya Sang Penjaga yang Rahmani dan Rahimi, yang menjagai hidup kita. Yang kepadaNya kita bisa berserah).

 

 

Ketika penulis tidak bisa menulis.

January 3rd, 2010 by david

Bukan karena tidak adanya kertas dan pensil, karena sekarang kebanyakan penulis menuliskan catatan mereka di atas media elektronik, seperti laptop yang sedang saya pakai ini. Bukan karena listrik untuk laptop di rumah sedang giliran padam, karena sekarang kita dapat menuliskannya di mobile phone model mutahir yang sangat canggih, yang bahkan sebelum selesai kita mengetik suatu suku kata, program dalam mobile phone bisa menebak kata yang akan kita tulis. Bukan karena kedua tangan kita sedang sakit dan tidak dapat digerakkan, karena anggota AMFPA (Association of Mouth and Foot Painting Artist) bahkan dapat menulis/melukis dengan kuas di mulut atau di kaki mereka. Bukan karena gelap yang menghalangi pandangan, karena sekarang sudah ada character recognition / spelling, yang bisa merubah huruf dan kata menjadi menjadi suara. Bahkan bukan karena tidak adanya semua alat bantu tersebut di atas; karena kita masih bisa menyusunnya di dalam pikiran kita.

Ini adalah hal penulis yang sedang tidak bisa menulis, karena sedang tidak ada hal yang bukan saja pantas, tapi karena tidak ada sama sekali yang bisa dituliskan.

Mungkin bagi seseorang yang tidak biasa menuliskan pemikiran-pemikirannya atau imajinasinya, kondisi tersebut tidak menjadi soal, tidak masalah. Bagi mereka mungkin lebih baik ngobrol atau nonton TV atau mengerjakan hobinya yang lain. Atau paling gampang ya tidur saja.

Tapi bagi penulis yang biasa menulis, yang mempunyai hobi menulis, maka bila saat ini tidak bisa menuliskan apa yang ada di dalam pikirannya, di dalam imajinasinya, di dalam angan-angannya, akan menimbulkan kegelisahan,

Apalagi bila kegiatan menulis, dari penulis, sudah menjadi bagian dari hidupnya, maka ketika penulis tidak bisa menulis(kan) apa yang sedang ada dalam pikirannya, dalam hatinya; akan menjadi suatu penderitaan. Bahkan mungkin akan menjadi penderitaan yang amat sangat menyesakkan hatinya. Sesuatu yang menyebalkan, yang lebih sebal dari rasa orang yang ingin bersin tapi tidak dapat bersin; yang lebih sakit dari perut yang sembelit tetapi tidak dapat buang air besar.

Bayangkan saja, dalam pikirannya dan dalam hatinya ada dorongan untuk menulis; tapi ia tidak dapat menuliskan apa yang ada di dalam pikiran dan dalam hatinya tersebut. Ia sama sekali tidak bisa menuangkannya dalam tulisan. Keadaan yang tidak enak, amat sangat, se_ka_li.

Membayangkan penulis yang tidak bisa menulis juga terasa sangat memilukan. Seperti melihat seorang yang tidak bisa berenang tenggelam di danau. Dia berusaha untuk selalu timbul di permukaan air. Berusaha untuk merebut udara di atas air. Tapi baru saja ia membuka mulut untuk menyedot udara, air telah merendam hidung dan mulutnya kembali. Berapa lamakah seorang penulis dapat tahan untuk tidak menulis?

Untungnya hal ini (penulis yang tidak bisa menulis) hanya imajinasi saja. Karena seorang penulis selalu saja mempunyai hal yang dapat dituliskan. Entah tentang sesuatu yang serius, sesuatu yang ilmiah, sesuatu hal yang lucu, atau bahkan tentang sesuatu yang tidak jelas juntrungannya seperti tulisan ini.

Seorang penulis tidak akan pernah kekurangan bahan untuk dituliskan. Sesuatu akan mengalir begitu saja dari dalam pikirannya ke ujung jarinya.

Selamat menulis(kan) tentang apa saja.

Salam(010210dc)

 

 

Jauh Dekat

December 26th, 2009 by david

Jauh Dekat Rp 3500, karena dengan tarif tersebut kita bisa naik TransJakarta dari KampungRambutan ke KotaTua atau naik dari PuloGadung ke Rangunan atau dari BlokM ke Ancol. Hanya dengan 3500 rupiah, kita sudah dapat bepergian dengan nyaman dan cukup jauh. Tapi untuk bepergian dari halte DukuAtas ke halte Tosari yang berjarak kurang dari 500 meter pun kita tetap membayar 3500 rupiah. Jauh atau dekat kita harus membayar 3500 rupiah.  Jauh dekat sama saja.

Apakah benar dalam kehidupan kita Jauh Dekat sama saja?

Jauh Dekat adalah lawan kata yang menunjukkan jarak. Kata Jauh adalah lawan kata dari kata Dekat, seperti panjang dan pendek, tinggi dan rendah, mahal dan murah, berat dan ringan etc. Jauh berarti tidak dekat, atau dekat berarti tidak jauh. Arti yang berlawanan. Jadi Jauh Dekat tidak sama.

Jauh Dekat juga tidak sama ketika kita naik mikrolet. Semakin Jauh semakin banyak ongkos yang harus kita bayar. Semakin Dekat, kita mungkin bisa membayar lebih sedikit.

Jauh Dekat, dalam menunjukkan jarak sebenarnya relatif. Ketika suatu acara kantor untuk anak-anak diselenggarakan di Gelanggang Samudra Ancol, bagi sebagian orangtua yang tinggal di Bintaro mengeluh karena merasa jauh, tapi bagi mereka yang tinggal di KelapaGading cukup senang karena merasa dekat. Ancol tetap Ancol yang tidak bergerak kemana-mana, tapi Ancol yang sama bisa dianggap jauh oleh yang satu tetapi dianggap dekat oleh yang lain. Jauh Dekat, relatif, tergantung cara kita melihatnya. Sangat subjektif.

Jauh Dekat adalah hal perasaan. Kita bisa merasa Jauh dalam kesendirian walaupun kita berada di ruang tunggu rumah sakit yang sibuk, tapi kita juga bisa merasa Dekat dengan orang yang kita cintai ketika kita saling berkirim SMS di bandara di US. Semakin erat suatu hubungan/relasi, semakin mudah merasa Jauh.

Jauh Dekat dalam lagu ‘Tuhan’ nya Bimbo, merupakan cerminan hubungan kita dengan Tuhan. ‘aku Jauh, Engkau Jauh; aku Dekat, Engkau Dekat’. Hati adalah cerminan. Ini adalah presepsi yang kita rasakan. Ketika kita menjauhkan diri kita dari cernin, bayangan kita di dalam cermin pun akan menjauhi kita. Sebaliknya, bila kita mendekatkan diri ke permukaan cermin, maka bayangan kita pun akan mendekat. Walaupun dalam kehidupan (presepsi saya) Tuhan selalu berada di dekat kita. Dia tidak pernah jauh dari kita, hanya kita saja yang merasa jauh dari Dia.

Jauh Dekat dalam menempuh perjalanan mempunyai nilai yang sama. Pada perlombaan Rally Paris Dakar (sekarang sudah berubah menjadi Rally Dakar saja). Manakah yang lebih penting; saat start di Paris, Perancis? Ataukah waktu finish di Dakar, Senegal?

Jawaban yang saya dapat di suatu pertemuan remaja: ‘Start lebih penting’ Benarkah? Karena jawaban yang saya peroleh dalam pertemuan lansia (pria): ‘Finishnya yang lebih penting’. Kedua jawaban ini, menurut saya, benar dan menurut presepsi masing-masing. Adakah kemenangan di titik finish bila kita start dengan buruk? Atau adakah kemenangan walau start dengan baik/cepat tapi tidak sampai titik finish? Dalam suatu rally, Jauh Dekat jarak dari titik finish sama pentingnya. Mereka harus menaruh perhatian pada setiap meter jalan yang ada di depannya, siap untuk menghadapi rintangan batu besar atau lubang dalam, menghadapi kejutan di setiap tikungan, menghitung tenaga untuk menanjak atau mulai mengerem saat turunan tajam. Jadi buat mereka Jauh Dekat sama saja.

Jauh Dekat perjalanan hidup kita tidak ada yang tahu. Tapi seperti seorang pe‘rally’ atau seperti seorang musyafir; mestinya setiap langkah, harus kita nikmati tapi juga kita cermati. Pastikan bahwa langkah kita tidak meninggalkan jejak penyesalan, dan tetap menuju jalur pengharapan yang membawa kemenangan..

Salam(122609)

 

Memberitakan kabar baik bagi bangsa.

December 26th, 2009 by david

Judul tulisan ini (yang merupakan tema natal tahun ini) sepertinya mengandung harapan akan adanya kabar baik bagi bangsa kita. Judul tulisan ini, sepertinya juga mengandung kecemasan karena banyaknya kabar buruk yang sering kita lihat, kita baca atau kita dengar.

Dari media masa seperti; koran, majalah, televisi, radio, internet, e-mail etc. sepertinya tidak habis-habisnya memberitakan kabar buruk; gempa bumi, banjir, tanah longsor, kecelakaan transportasi, kecelakan kerja, kebakaran rumah atau gedung, kebakaran hutan, pembunuhan dan bunuh diri, kelaparan, pencurian, perampokan, korupsi, ketidakadilan, penindasan dan masih banyak lagi yang dapat kita tuliskan di sini. Kabar buruk ini seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Infotainmen, baik yang ada di televisi maupun majalah, menurut arti katanya adalah gabungan antara informasi dan entertainmen. Jadi menurut arti katanya, infotainmen, seharusnya memberi kita informasi atau berita, dan juga memberi kita entertainment atau hiburan/kesenangan. Tapi dalam kenyataannya sering infotainmen hanya berisi gosip yang tidak terlalu jelas kebenarannya; tentang tokoh publik yang terjerat masalah hukum; masalah orang terkenal yang terlibat dalam perselingkuhan; masalah artis yang sedang dalam proses perceraian; atau selebritis yang terlibat dalam perseteruan, percekcokan baik dengan sesama selebritis atau dengan pihak lain atau bahkan dengan pihak media entertainmen itu sendiri. Infotainmen telah sering menjadi kabar yang menyenangkan di atas ketidaksenangan/ketidaknyamanan/penderitaan orang lain. Infotainmen (sering) menjadi kabar buruk yang menyenangkan bagi sebagian orang, bagi sebagian bangsa kita ini.

Dalam situasi seperti sat ini, masih adakah kabar baik bagi bangsa ini? Saat ini, rasanya susah; dan tidak banyak kabar baik yang bisa kita lihat, yang bisa kita baca, yang bisa kita dengar. Bila demikian, haruskah kita menunggu sampai ada orang yang tergerak untuk memberitakan kabar baik bagi bangsa ini? Haruskah kita menunggu seorang ahli bahasa untuk menyusun kata-katanya? Atau haruskah kita menunggu seorang ahli hukum untuk merumuskannya? haruskah kita menunggu seorang pandai untuk memberitahukannya?, atau haruskan kita menunggu seorang pemimpin untuk memulainya?

Dalam kisah natal yang pertama, kabar tersebut diberitakan oleh para malaikat kepada para gembala. Kemudian, setelah para gembala membuktikan kebenarannya, mereka memberitakannya kepada orang-orang lain yang mereka jumpai. Berita tersebut telah disampaikan kepada seluruh bangsa melalui malaikat, tapi juga melalui gembala yang sederhana.

Kita bukan malaikat, dan kita juga bukan gembala. Kita adalah pribadi yang ada dengan pekerjaan masing-masing; dengan kedudukan sosial yang mungkin berbeda. Tetapi kita mempunyai tanggung jawab yang sama yaitu untuk menyampaikan kabar baik bagi bangsa ini. Kabar baik bahwa bangsa kita ini mempunyai harapan untuk hidup (lebih baik). Bisakah kita melakukan tanggung jawab kita untuk memberitakan kabar baik bagi bangsa ini? Jawabnya adalah: Bisa!

Kita harus memberitakan kabar baik ini tidak dengan kata-kata saja; tidak hanya dengan tulisan, seperti tulisan ini, tapi kita dapat memberitakan kabar baik melalui tindakan dan perbuatan kita, melalui perkerjaan kita, melalui karya kita dan melalui hidup kita.

Semoga kabar baik yang kita berikan dapat membawa kebaikan bagi bangsa kita ini.

Selamat Natal 2009 (122409)

 

Memimpikan wujud, mewujudkan mimpi

December 6th, 2009 by david

Saya sedang membeli tiket subway di sebuah ticketing machine. Ketika saya membaca tulisan Bloor-Yonge pada panelnya, saya terkejut, karena saya berpikir bahwa saya sedang berada di stasiun subway di Shibuya. Saya menyadari, kalau saya ada di sini sekarang, maka saya harus keluar stasiun, karena apartement saya di Town Inn yang terletak di Church street tidak jauh dari stasiun ini. Saya melangkah keluar dari stasiun. Dan saya tahu, saya harus belok kanan untuk sampai di sana. Sambil berjalan, saya harus meyakinkan diri untuk tidak salah memilih kereta, karena saya pernah bermimpi, saya salah memilih naik truk sehingga saya sampai ke sebuah desa yang mirip-mirip di daerah Puncak. Tiba tiba saja saya sudah ada di kamar saya.

Saya terbangun dan saya sadar bahwa saya baru saja bermimpi lagi.

 

Dalam mimpi, segala sesuatunya terlihat seperti nyata. Saya tahu detail ticketing machine di Shibuya. Saya mencium aroma khas pewangi ruangan di pintu keluar stasiun yang menuju jalan Yonge. Saya juga sempat merasakan dinginnya angin yang bertiup di pojokan jalan Church. Dalam mimpi saya merasakan segala sesuatunya nyata. Saya memang ada di sana, di tempat itu, dan apa yang saya lakukan, yang saya rasakan adalah nyata, bukan dalam mimpi. Itu sebabnya dalam mimpi tersebut, saya juga ingat bahwa saya pernah bermimpi. Bukankah saya tidak mungkin bermimpi dalam mimpi?.

 

Mimpi memang suatu misteri, urutannya bisa melompat-lompat, tempatnya bisa tiba-tiba berubah, interaksi sosialnya bisa juga menyambung ke arah yang tidak terduga, bahkan dengan sesuatu yang tidak ada hubungan sama sekali dalam dunia bukan mimpi. Mimpi boleh jadi merupakan ingatan bawah sadar kita, juga bisa merupakan proses pemecahan masalah yang terbawa kedalam tidur kita, atau mungkin juga merupakan obsesi kita yang belum tercapai. Atau bahkan oleh sebagian orang, mimpi dianggap sebagai pengelihatan masa sekarang tapi di tempat lain (misal: ada saudara yang sakit) atau petunjuk tentang masa yang akan datang.

 

Dalam tidur (tidak sadar) kita telah memimpikan wujud. Tapi dalam kesadaran, kita juga sering memimpikan wujud. Leonardo da Vinci, pernah memimpikan kendaraan dengan baling-baling dari layar untuk terbang, dia juga penah memimpikan kendaraan seperti kerucut yang tahan terhadap panah musuh tapi mempunyai beberapa lubang untuk membalas melepaskan panah. Jules Verne pernah memimpikan mempunyai kendaraan yang bisa membawa manusia ke bulan. Martin Luther King Jr. pernah mengatakan: ”I have a dream that one day this nations will rise up…….., Sukarno pernah memimpikan Indonesia yang adil, makmur, aman dan sejahtera. Waktu kecil, kita mungkin pernah memimpikan sepeda super cepat, walaupun saat itu sedang mengendarai sepeda roda tiga.

 

Kita mengimpikan wujud yang sangat kita dambakan, karena kita (saat itu atau saat ini) tidak mempunyainya. (Seperti pengantar yang pernah saya tulis dalam tulisan saya: Merry Christmas and Happy NewYear). Karena kalau saat ini kita sudah mempunyainya atau sudah mencapainya, maka hal itu sudah bukan merupakan impian lagi.

 

Mimpi mimpi itu begitu indah, begitu menginspirasi kita, begitu memotivasi, begitu mengobsesi, sehingga kita terus berupaya untuk mewujudkannya. Karena kalau mimpi tersebut tidak diwujudkan, maka mimpi itu tetap berada dalam alam bawah sadar kita. Mimpi tersebut hanya dapat dinikmati oleh orang yang memimpikannya, tapi tidak oleh orang lain, apalagi membawa berkat.

Supaya mimpi kita bisa menjadi berkat, maka mimpi tersebut harus diwujudkan. Bisa dalam wujud tulisan seperti tulisan ini atau wujud -wujud lain yang bisa ditangkap oleh pancaindera kita, sehingga orang lain dapat menikmati atau merasakan manfaat dari perwujudan mimpi kita.

 

Pertanyan yang kemudian timbul adalah, apakah mimpi bisa menjadi berkat bila pemimpi (orang yang memimpikan)nya tidak dapat mewjudkannya secara sempurna? Karena sepertinya ada anggapan di dalam masyarakat bahwa, mimpi yang tidak dapat diwujudkan oleh pemimpinya adalah suatu kegagalan; sedangkan orang yang dapat mewujudkan mimpi (walau itu impian orang lain) adalah keberhasilan. Keberhasilan hanya dilihat, pada orang yang terakhir berhasil mewujudkannya. Anggapan ini tidak salah, tetapi (menurut saya) anggapan ini akan lebih sempurna bila suatu keberhasilan bisa diakui sebagai kerja bareng dari pemimpi wujud dan pewujud mimpi.

Leonardo da Vinci memimpikan kendaraan untuk terbang, Igor Sikorsky mengembangkannya menjadi helikopter; Jules Verne memimpikan bisa terbang ke bulan, Neil Amstrong lah yang pertama menjejakkan kakinya di sana; Martin Luther King Jr memimpikan persamaan hak di Amerika dan seorang Barrack Hussein Obama mewujudkannya dengan menjadi presiden Amerika yang ke 44.

 

Jadi jangan takut untuk memimpikan wujud dan jangan kuatir untuk mewujudkan mimpi.

Setiap orang punya peran masing-masing dan saling melengkapi.

Salam(120609dc)

 

Sirene

December 6th, 2009 by david

Setidaknya ada tiga sirene yang saya dengar pada hari Senin lalu (03/05/07).

Sirene yang pertama, terdengar saat TiJe yang saya  gunakan memasuki ’underpass’ Senen. Sebuah sedan hitam milik seorang menteri, berjuang melintasi kemacetan selepas simpang Galur menuju Senen. Mobil pengawal yang mengiringinya menyalakan lampu darurat, meminta prioritas pada pengguna jalan lain. Anehnya, mobil pengawal ini ber-plat sipil hitam, sesuatu yang mengingatkan saya akan suatu sidang tilang di US. Di negara bagian New Jersey, seorang perawat yang membawa pasien yang sakit, ditilang karena melampaui batas kecepatan. Alasan hakim, perawat itu tidak menggunakan ambulance tapi mobil pribadi, jadi harus menuruti hukum yang berlaku untuk umum. Di depan iringan tersebut dua orang paswal dengan bersusah payah memerintahkan kendaraan lain untuk minggir. Tapi kendaraan-kendaraan tersebut harus minggir kemana?. Tidak ada ruang sama sekali di sana. Saya juga sempat berpikir, berapa lama ia akan terlambat? Kalau terlambat apa akibatnya bagi pak menteri? Jangan-jangan ia hanya terlambat untuk minum teh. Ia juga sering melewati jalur tersebut, mengapa tidak berangkat lebih pagi? Petuah orang tua di kampung: ’Rezeki itu datangnya mulai pagi hari, jadi bangunlah lebih awal’.

 

Sirene yang ketiga terdengar sorehari, saat saya pulang dari kantor di jalan Kebon Sirih. Sebuah mobil ambulan tengah berjuang melepaskan diri dari  kepadatan lalulintas. Sirenenya meraung-raung, sesekali ditambah dengan bunyi klaksonnya. Tapi tetap saja tidak ada jalur yang diberikan. Akhirnya ambulance tersebut naik ke atas pedestrian, masuk ke halaman parkir suatu perkantoran, keluar lagi dari pintu lainnya, melintasi pedestrian lagi, sebelum turun kembali ke jalanan. Tampaknya benar-benar darurat. Dan yang membuat saya lebih prihatin adalah sikap pengguna jalan lainnya. Begitu ambulance ini menemukan jalannya, pengguna jalan lain memanfaatkan kesempatan  dengan seolah menjadi bagian dari iringan yang harus mendapat prioritas tersebut. Mobil dan sepeda motor, ikut-ikutan naik ke atas pedestrian dan melintasi areal parkir kantor tersebut. Pemanfaatan semacam ini juga harus diwaspadai ketika chasis untuk bus Transjakarta mendapat prioritas beacukai. Jangan sampai ada yang men’dompleng’ kemudahan ini dengan memasukkan hal-hal yang tidak ada sangkutpautnya dengan kepentingan umum.

 

Sirene kedua, sebenarnya tidak hendak saya ceritakan karena masih bisa dapat diperdebatkan. Sirene ini terdengar di sekitar ’underpass’ DukuhAtas dari atas suatu mobil jenasah. Beberapa sepeda motor dengan berbekal bendera kuning, memaksa menghentikan kendaraan kendaraan lain yang tidak sejalan dengan iringan tersebut. Suatu kepercayaan bahwa iringan pemakaman diberikan prioritas supaya arwah yang  meninggal juga lancar jalannya menuju akherat. Sebenarnya kalau dipikir, waktu yang diperlukan untuk sampai di akherat hanyalah satu hembusan nafas saja. Tapi biarlah yang masih hidup ini mengalah terhadap yang telah mati sebagai penghormatan terakhir.

 

Bila sirene tidak lagi bisa menyuarakan suatu kegawatan, karena terlalu sering dibunyikan, bahkan untuk hal-hal yang sepele sekalipun. Semoga desak-desakan di halte, bahkan ada yang sampai jatuh pingsan, jangan dianggap sebagai kejadian yang wajar, yang dapat dibiarkan begitu saja.

Salam. (030707 dc)

Hidup adalah Pilihan

August 25th, 2009 by david
Walau Pemilihan Umum sudah lewat, kita tetap diperhadapkan dengan pilihan. Pilihan untuk memilih yang satu atau memilih yang satunya lagi; atau pilihan untuk memilih satu hal dari antara beberapa hal, atau juga pilihan untuk memilih beberapa hal di antara banyak hal-hal lainnya.

Bahkan juga pilihan untuk memilih atau tidak memilih. Karena tidak memilihpun adalah suatu pilihan. Ketika kita tidak mau memilih dan membiarkan segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya, di luar kontrol kita, itu tetap juga berupa pilihan.

Hidup tidak dapat dilepaskan dari kegiatan pilih memilih. Dari memilih secara tidak sadar, misalkan melangkah dengan kaki kanan kita atau dengan kaki kiri terlebih dahulu; memilih secara sederhana untuk memakai baju yang mana; atau saat kita harus berpikir keras untuk menentukan pilihan, seperti saat kita menerima dua tawaran yang sama bagusnya.

Dari saat kita bangun tidur di pagi hari, sampai malam ketika kita mau tidur kembali, kita di perhadapkan oleh banyak pilihan. (Eh, mungkin cuma mimpi kita ketika tidur saja, yang tidak dapat kita pilih sendiri).

Memilih adalah bentuk kebebasan yang Tuhan berikan kepada kita. Memilih adalah anugerah Tuhan yang membebaskan kita, manusia, untuk menjadi dirinya sendiri.

Apakah ketika lahir kita juga bisa memilih? Menurut perkiraan saya (karena saya tidak ingat apapun saat saya masih bayi dahulu) kitapun sudah mencoba memilih. Mengenai hal yang saat itu kita pilih tetapi tidak bisa kita lakukan/dapatkan (lalu kita menangis) adalah hal yang berbeda. Sekarangpun kita bisa memilih, tetapi sering juga tidak bisa kita lakukan/dapatkan hasilnya sesuai dengan keinginan kita.

Pilih-memilih selalu ada dalam kehidupan ini. Pilih memilih terjadi dalam kehidupan ini karena memang itu konsekuensi dari hidup. Selama kita masih hidup akan selalu ada pilih memilih. Pilih-memilih adalah tanda kehidupan. Pilih-memilih adalah bagian dari kehidupan. Pilih-memilih akan berakhir bila kehidupan itu sendiri berakhir. Sekali lagi pilihan hanya ada dalam hidup, saat kita hidup, tidak ada pilihan lagi setelah tidak hidup/mati.

Sekarang tinggal bagaimana atau apa yang kita pilih dalam hidup ini?

Chairil Anwar, seorang penyair, dalam salah satu sajaknya yang berjudul Diponegoro menulis: .. Sekali berarti, Sudah itu mati….. Bagi Chairil Anwar arti pilihan hidup adalah untuk berarti, mempunyai arti, entah itu bagi dirinya sendiri dan/atau bagi orang lain.

Pilihannya supaya hidup berarti, menurut saya adalah pilihan yang tepat, karena dengan hidup yang mempunyai arti bagi orang lain, maka kehidupannya tidak akan berakhir pada saat kematian menjemputnya. Arti kehidupan kita bagi orang lain akan tetap diingat dan akan bertahan walau kita sudah tiada.

So, apa pilihan hidup kita? (081809dc)

Keadilan suatu relatifitas

May 11th, 2009 by david

Hari-hari ini adalah hari libur untuk sebagian besar anak sekolah. Bagi mereka yang beruntung ada yang menikmati liburannya di Singapura atau ikut tur ke negara-negara lain. Sedangkan bagi mereka yang orangtuanya kurang beruntung karena tidak mempunyai waktu atau tidak mempunyai ‘waktu’ ( baca: ‘waktu’ = uang, ingat  ‘time is money’), terpaksa ikut ngantor. Maksudnya, pergi bersama ke
kantor orangtuanya. Bermain di taman sekitar kantor atau pergi ke mall dekat kantor orangtuanya, menjadi alternatif untuk menghilangkan kejenuhan di rumah.
Siang ini saya melihat dua anak lelaki kakak-adik bersama ayahnya, sedang menunggu makanan, sate padang. Ketika piring dari daun pisang yang berisi sate tersebut datang, sempat terjadi keributan kecil. Si kecil yang menerima lima tusuk sate tampaknya protes ke ayah mereka. Ia ingin mendapatkan sepuluh tusuk sate, seperti kakaknya. Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh ayah mereka. Seharusnya ia harus diberi sate yang sama seperti kakaknya. Keadilan ,menurutnya, adalah bila ia diberi hal yang sama.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah melihat keadaan yang hampir bertolak belakang. Ini tentang dua anak laki-laki, kakak-adik juga. Mereka berdua berjalan beriringan. Mereka membawa koper yang sama, koper pakaian mereka masing-masing. Si adik juga tampak bersungut-sungut, karena menurutnya koper yang dibawanya terlalu berat buat dia. Menurutnya, supaya terasa adil, seharusnya sebagian bawaannya diangkat oleh kakaknya. Atau setidaknya, ia membawa koper yang lebih kecil dari pada koper yang dibawa kakaknya. Menurutnya, keadilan adalah bila yang kuat membantu yang lemah.
Di dalam poligamipun disyaratkan bahwa seorang suami harus berlaku adil terhadap istri-istrinya. Masalahnya, bagaimana yang disebut adil?. Apakah adil bila setiap istri mendapatkan satu rumah dan satu sepeda motor?, sedangkan yang seorang mempunyai lima anak, sedangkan yang seorang tanpa anak? Keadilan itu relatif.
Beberapa saat lalu dalam diskusi tentang tarif, sempat ada wacana untuk penyesuaian tarif TiJe dengan argumentasi masing-masing. Detik.com kemarin menurunkan berita tentang kemungkinan bangkrutnya TB, bila terus diadakan pembatasan bus yang beroperasi oleh BLUTJ untuk menekan besarnya subsidi. Yang kemungkinan berujung pada kenaikan tarif TiJe. Tapi posting ini tidak bermaksud
sama sekali untuk semata-mata menjadi alasan untuk menaikan tarif. Kenaikan tarif tidak boleh juga dijadi alasan untuk meningkatkan kenyamanan transportasi umum. Kenyamanan dan keamanan pengguna adalah hal yang utama yang harus tetap diusahakan. Kalau kemudian kemampuan besarnya subsidi dari pemda untuk TiJe terbatas dan harus ada penyesuaian tarif. Maka hendaknya penyesuaiaan tersebut harus tetap memperhatikan rasa keadilan. Mengapa ‘rasa’ ? Karena sekali lagi, keadilan adalah relatif. Anggaran transportasi keluarga sebesar 30% bahkan 20% dari UMR untuk sebagian orang terasa sangat berat, sedangkan nilai absolutnya bagi sebagian orang yang lain terasa tidak ada artinya. Jadi subsidi yang diberikan oleh pemda untuk TiJe seharusnya diterima oleh orang yang tepat, yang layak mendapat subsidi.
Pengguna mobil akan beralih menjadi pengguna TiJe, bila faktor kenyamanan (temasuk di dalamnya faktor ketepatan) dan keamanan dapat dijaga. Sedangkan tarif sampai Rp 4500 (harga 1 liter premium) setiap 10 kilometer, menurut saya masih dapat diterima, bila faktor setara dengan kendaraan pribadi dapat diperolehnya. Sedangkan pengguna tertentu seperti pelajar berseragam dan lansia
tetap diberikan subsidi yang lebih. (Alasan mengapa hanya kedua golongan ini yang perlu mendapat subsidi, pernah saya kemukakan pada posting yang lalu, yaitu: lebih sederhana mengontrolnya dan juga untuk mendorong pengurangan penggunaan mobil pribadi untuk mengantar kedua golongan tersebut).
Semoga subsidi untuk masyarakat transpotasi dapat diterima dengan adil.
Salam (071107 dc)

Sekaring lati gumantung ning ati

April 9th, 2009 by david

’Sekaring lati gumantung ning ati’, secara harafiah artinya:  bunganya mulut tergantung dari hati. Pepatah bahasa Jawa yang bermakna kurang lebih: ucapan kita sangatlah dipengaruhi oleh kejernihan hati kita. Saat ini arti pepatah itu mungkin telah bergeser. Apa yang diucapkan bisa tidak sesuai lagi dengan yang ada di hati. Seperti syair sebuah lagu yang dilantunkan Bob Tutupoli: …lain di bibir lain di hati…… Seseorang bisa berkata cinta, tapi hatinya penuh kebencian, atau berjanji manis, tapi hatinya penuh tipu muslihat dst.

Walau arti pepatah tersebut bisa bergeser, saya tetap memaknai satu hal, yaitu hati adalah sumber segala eksistensi kita. Dalam bahasa Inggris: you are what you think. Anda adalah seperti anda yang ada di dalam pikiran anda. Ketika kita berpikir kita adalah rakyat yang tertindas, kita akan berperilaku seperti rakyat yang menderita. Ketika kita berpikir sebagai orang upahan, kita hanya hidup sebagai kuli.

Mengapa orang yang mempunyai harta berlimpah melakukan korupsi? Karena orang tersebut merasa miskin. Mengapa orang berlaku sewenang-wenang? Karena ia berpikir segala tindakannya harus dinyatakan dengan kekuatan/kekuasaan yang dimilikinya.

Sebaliknya: you are not what others said. Keberadaan kita tidak tergantung dari apa yang orang lain katakan. Keberadaan kita tergantung pada diri sendiri.

Seorang tunawisma dapat tidur nyenyak di terminal bus antarkota yang kotor dan bising karena hatinya tenang, sebaliknya seorang kaya tidak dapat tidur walaupun ia berbaring di atas kasur yang empuk di kamarnya yang ber AC karena hatinya tetap bergemuruh.

Hati merupakan sumber kehidupan kita.

Ticketing bukan hanya calo karcis, ticketing adalah orang pertama yang mewakili TiJe. Perhatiannya, keramahtamahannya memberi kesan yang mengawali perjalanan seorang pengguna TiJe.

Satgas bukan hanya penjaga pintu bus TiJe, dia adalah seorang kapten yang penuh perhatian akan keamanan dan kenyamanan pengguna TiJe yang menjadi tanggung jawabnya. Ia akan mempersilahkan pengguna TiJe untuk memasuki busnya, mengarahkan pengguna agar dapat tempat yang paling baik, memastikan bahwa semuanya aman dan mempersilahkan pramudi untuk mengambil alih kendali menjalankan busnya.

Pramudi bukan hanya supir, pramudi adalah seorang pilihan yang sangat ahli mengendalikan TiJenya, dengan keahliannya ia dapat menghentikan TiJenya dengan lembut di halte, sedemikian lembutnya sehingga kalaupun ada nenek-nenek yang berdiri di busnya tidak akan terguling. Kepada dia, semua pengguna TiJe mempercayakan keselamatan perjalanannya.

Supervisor bukan hanya seorang mandor (makan kuat, kerja kendor), dengan kemampuannya sebagai penyelia, dia adalah orang yang bisa menjembatani kebutuhan pelayanan dan ketersediaan sarana. Bila operasional berjalan lancar, maka dia adalah orang yang paling berbahagia. 

BLUTJ adalah organisasi yang terpanggil untuk melayani kebutuhan transportasi bus di Jakarta. Di dalamnya penuh dengan orang-orang yang berdedikasi tinngi, yang selalu berpikir dan bertindak untuk melayani kepentingan umum.

DTK bukan hanya penentu harga tiket TiJe, tapi adalah dewan pakar yang mempunyai visi yang luas, yang mampu berkoordinasi dengan instansi lainnya.

Dan kita adalah penumpang terhormat yang dihormati orang lain dan tahu menghormati orang lain.

So, what are you ?

Have a nice weekend (010507dc)